Senin, 03 Desember 2012

HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS



DAFTAR  ISI

Daftar Isi ………………………………………………………...                   i
Kata Pengantar ……………………………………………………………            ii
BAB I             PENDAHULUAN
A.Latar Belakang …………………………………………………                        iii
B.Tujuan Pembahasan ……………………………………………            iv        


BAB II            HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Pengertian Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus……………            1
B. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus………………….                        2
C. Pervalensi ( pemerataan)………………………………………             4


BAB III          PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA
Pentingnya Pendidikan Inklusi……………………………….             5


BAB IV          PERAN GURU DALAM KEMITRAAN ORANG TUA
A.    Peran guru dalam menjalin hubungan kemitraan………….             6

KESIMPULAN ……………………………………………………………           7
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..                       8


KATA PENGANTAR



            Syukur Alhamdulillah selalu dipanjatkan kehadirat Allah,atas segala nikmat,karunia,dan maunah-Nya sehingga kita senantiasa dapat menjalankan tugas dan amanah-Nya.

Dalam usaha membantu para mahasiswa di bidang Ilmu Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,maka kami menyusun makalah ini. Dalam menyusun makalah berjudul Layanan Pendidikan Anak Usia Dini berkebutuhan khusus ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa untuk lebih mengetahui konsep dasar Pendidikan Anak Usia Dini,dan kami berharap makalah ini menjadi bahan telaah bagi para mahasiswa.

Kami menyadari makalah ini masih ada kekurangannya,karena itu para mahasiswa dapat mengemukakan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dalam pembelajaran.







                                                                                    Palembang,14 September 2012
                                                                                   

                                                                                    Penyusun





Rounded Rectangle: 1
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka perhatian dan bantuan dari orang lain.

Anak penyandang cacat mulai diakui keberadaannya, dan oleh sebab itu mulai berdiri sekolah-sekolah khusus, rumah-rumah perawatan dan panti sosial yang secara khusus mendidik dan merawat anak-anak penyandang cacat. Mereka yang menyandang kecacatan, dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dari orang kebanyakan, sehingga dalam pendidikannya mereka memerlukan pendekatan dan metode yang khsusus pula sesuai dengan karakteristiknya. Oleh sebab itu, pendidikan anak penyandang cacat harus dipisahkan (di sekolah khusus) dari pendidikan anak lainnya.

Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut dengan konsep Special Education, yang
melahirkan sistem pendidikan segregasi. Di Indonesia, sistem pendidikan segregasi sudah berlangsung selama satu abad lebih, sejak dimulainya pendidikan anak tunanetra pada tahun 1901 di Bandung. Konsep special education dan sistem pendidikan segregasi lebih melihat anak dari segi kecacatannya (labeling), sebagai dasar dalam memberikan layanan pendidikan. Oleh karena itu terjadi dikotomi antaran pendidikan khusus (PLB) dengan pendidikan reguler. Pendidikian khusus dan pendidikan regular dianggap dua hal yang sama sekali berbeda.

Konsep dan pemahaman terhadap pendidikan anak penyandang cacat terus berkembang, sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat. Pemikiran yang berkembang saat ini, melihat persoalan pendidikan anak penyandang cacat dari sudut pandang yang lebih bersifat humanis, holistik, perbedaan individu dan kebutuhan anak menjadi pusat perhatian. Dengan demikian layanan pendidikan tidak lagi didasarkan atas label kecacatan anak, akan tetapi didasarkan pada hambatan belajar dan kebutuhan setiap individu anak. Oleh karena itu layanan pendidikan anak penyandang cacat tidak harus di sekolah khusus, tetapi bisa dilayani di sekolah regular terdekat dimana anak itu berada. Cara berpikir seperti ini dilandasi oleh konsep Special needs education, yang antara lain melatarbelakangi munculnya gagasan pendidikan inklusif (UNESCO, 1994).


B. Tujuan Pembahasan

Dengan mempelajari makalah ini, pembaca diharapkan dapat memiliki gambaran, pengetahuan, dan wawasan yang cukup tentang jenis-jenis dan karakterisitk anak yang tidak biasa ini sehingga pada gilirannya memiliki sikap dan perilaku yang positif dan mampu memberikan perlakuan secara tepat untuk membantu mengembangkan potensi yang dimiliki.




 



BAB II
HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Pengertian Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus

Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia nternasional. Ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa. Ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan pendekatan dari difference ability. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah diergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestesinya.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hamabatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu: (a) anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang cacat), seperti anak yang tidak bisa melihat (atunanetra), tidak bisa mendengar (tunarungu), anak yang mengalami cerebral palsy dst. Dan (b) anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer.



B. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus

Untuk memahami anak berkebutuhan khusus berarti kita harus melihat adanya berbagai perbedaan bila dibandingkan dengan keadaan normal, mulai dari keadaan fisik sampai mental,dari anak cacat sampai anak berbakat intelektual.
 Perbedaan untuk memahami anak berkebutuhan khusus dikenal ada dua hal yaitu perbedaan interindividual dan perbedaan intraindividual.

1.      Perbedaan Interindividual
Berarti membandingkan perbedaan individu dengan orang lain dalam berbagai hal diantaranya perbedaan keadaan mental (kapasitas kemampuan intelektual), kemampuan panca indera (sensory), kemampuan gerak motorik, kemampuan komunikasi, kemampuan perilaku, dan keadaan fisik.
a.       Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan panca indera
1) Anak dengan gangguan penglihatan
2) Anak dengan gangguan pendengaran
3) Anak dengan kelainan autistic
b.      Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan fisik dan kemampuan gerak motoric
c.       Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan kemampuan komunikasi
d.      Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan kemampuan emosi dan perilaku
e.       Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan prestasi belajar

Pengelompokan ini penting karena pada umumnya secara pendidikan kadang-kadang mereka memiliki gejala yang sama, ialah sama-sama mengalami kesulitan belajar atau problema dalam belajar. Jika kita dapat menganalisis dan mencari sumber penyebab seta dapat mengelompokkan secara tepat, maka kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka.
Mengenai anak berkesulitan belajar spesifik (spesific learning disability), juga dapat dibagi menjadi dua jenis, ialah kesulitan belajar praakademik dan kesulitan belajar akademik.


1) Kesulitan Belajar Praakademik
Ada tiga jenis anak dengan kesulitan belajar Praakademik:
Ø  Gangguan Motorik dan persepsi
Gangguan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus.
Ø  Kesulitan belajar kognitif
Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek struktural intelek yang diprgunakan untuk mengetahui sesuatu.
Ø  Gangguan perkembangan bahasa
Disfasia adalah ketidakmampuan atau keterbatasan kemmpuan anak untuk menggunakan simbol linguistik dalam rangka berkomunikasi secara verbal. Defisia ada dua jenis : yaitu defisia reseptif dan defisia eksprsif. Pada defisia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Pada defisia eksprsi anak tidak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara verbal.
Ø  Kesulitan dalam penyesuaian perilaku sosial
Pada anak yang periakunya tidak diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesama anak, guru, maupun orang tua. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karena sering mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan atau berbagai perilaku neatif lainnya.

2) Kesulitan Belajar Akademik
Meskipun sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi, klaisfikasi kesulitan beljar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi tersbut. Ada tiga jenis kesulitan belajar akademik sebagai berikut :

Ø  Kesulitan belajar membaca (Disleksia)
Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia.. Ada dua jenis pelajaran membaca, membaca permulaan atau membaca lisan dan membaca pemhaman.
Ø  Kesulitan belajar menulis (disgrafia)
Kesulitan belajar menuli yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu:
(a). menulis permulaan.
(b). mengeja atau dikte dan
(c). menulis ekspresif.

Ø  Kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia.

2.      Perbedaan Intraindividual
Suatu perbandingan antara potensi yang ada di dalam diri indivdu itu sendiri, perbedaan ini dapat muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis, dan sosial.

Rounded Rectangle: 10C. Pervalensi ( pemerataan)

Dalam mengemukakan jumlah anak berkebutuhan khusus terjadi perbedaan antar lembaga, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan definisi dan kebutuhan yang disesuaikan dengan bidang lebaga masing-masing. Jumlah anak berkebutuhan khusus di negara maju seperti USA ada 11,50% dari populasi, sedang di negara berkembang seperti Indonesia dimungkinkan lebih banyak.
Sedangkan jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia belum ada data yang akurat, hal ini terkait dengan adanya sikap masyarakat yang masih menganggap anak berkebutuhan khusus sebagai aib keluarga, sehingga setiap ada sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun sekali selalu tidak muncul adanya anak berkebutuhan khusus. Menurut data BPS hasil sensus 2003 di Indonesia terdapat 1,48% penyandang cacat, hal ini sangat jauh bila dibandingkan dengan negara maju seperti USA sehingga keakuratan data tersebut masih diragukan. Jumlah anak berkebutuhan khusus yang telah bersekolah di Indonesia ada 81.434 anak (Dir. PSLB,2006:39).



BAB III
PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA

Pendidikan Inklusif di Indonesia,ditandai dengan adanya dekralasi menuju pendidikan inklusif yang merupakan suatu bentuk landasan yuridis/landasan kebijakan bagi penyelenggaraan pendidikan yang mengintegrasikan antara layanan anak normal dengan anak berkebutuhan khusus.

Pentingnya Pendidikan Inklusi
    Menurut Foreman Dalam Mulyono (1994;126)
1.      Hasil-hasil penelitian tidak menunjukan bahwa sekolah khusus memberikan kemampuan social dan akademik yang lebih baik bagi siswa berkebutuhan khusus jika dibandingkan sekolah regular.
2.      Hasil-hasil penelitian menunjukan anak memperoleh keberuntungan dari sekolah inklusif
3.      Telah diterima nya secara luas tentang hak semua orang untuk berpartisipasi dalam masyarakat.













BAB IV
PERAN GURU DALAM KEMITRAAN ORANG TUA

Peran guru dalam menjalin hubungan kemitraan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam menjalin hubungan kemitraan dengan orang tua:

  1. Sikap guru yang selalu membantu,artinya guru perlu mengembangkan hubungan berkelanjutan seperti hubungan-mendengarkan,melawan-memaksa,dan sebagainya.
  2. Bertindak proaktif dengan guru,seorang guru perlu proaktif untuk memberikan porsi yang lebih besar pada orang tua. Itu berguna untuk menginformasikan perkembangan anak.
  3. Perpustakaan yang dapat dipinjam,artinya seorang guru dianjurkan menyediakan rak buku yang berisi buku dan kaset yang berhubungan dengan anak sehingga ketika ada pertemuan antara guru dan orang tua,buku dapat dipergunakan orang tua.
  4. makan bersama orang tua dan pameran seni karya anak.
  5. mengadakan pertemuan antara guru dengan orang tua.
  6. Buku catatan orang tua dan daftar nomor telepon.
  7. mengatasi komplain yang disampaikan orang tua.






KESIMPULAN

Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual maupun intraindividual yang signifikan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi Rounded Rectangle: 7

dengan lingkungan sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan



















DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Upi Press
Http://Www.Scribd.Com/Doc/17387933/Mengenal-Anak-Berkebutuhan-Khusus
http://z-alimin.blogspot.com/2008/03/pemahaman-konsep-pendidikan-kebutuhan.html
Suparno, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Universitas Lampung.
Sujiono,Nuraini yuliana.2012.Konsep Dasar Anak Usia Dini.Indeks.s

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar